Meniadakan Rasa Sayang Untuk Bergerak Maju

Menghilangkan Rasa Sayang Untuk Bergerak Maju
Pengemis di Jalan Solhe Iskandar, Bogor, 2017

Hampir 3 Gigabyte kapasitas yang berhasil dihemat dari hard disk komputer yang biasa saya pergunakan hari ini. Bukan angka yang besar memang kalau dibandingkan dengan kapasitas HD yang sampai 500 Gigabyte, tetapi setidaknya sejumlah itu berhasil dikosongkan untuk dipergunakan ulang.

Kapasitas itu sebelumnya ditempati oleh ratusan foto hasil jepretan di tahun 2015-2017. Foto-foto yang sebenarnya jarang sekali dilihat ulang karena bahkan menurut saya pun jauh dari kata “lumayan”.

Namun, kemalasan dan rasa sayang saya terhadap hasil kerja selama ini lah yang membuat foto-foto itu masih tetap menyita kapasitas hard disk.

Baru sejak kemarin, sejak saya mulai aktif kembali di dunia fotografi, foto-foto itu dibuang. Bagaimanapun, foto jelek tersebut tidak berguna sama sekali, bahkan untuk sekedar sebagai ilustrasi tulisan di blog lain bikin mata sepet

Memang, rasa malas menyeleksi berperan lebih dominan terhadap terpakainya kapasitas hard disk di komputer. Meskipun demikian, sedikit rasa sayang tetap ada. Apalagi sebelumnya, saya sudah “membuang” ribuan foto yang lebih jelek lagi, jadi rasa sayang itu semakin besar.

Alasan yang terlintas di kepala adalah “Nanti, kalau saya butuh foto pelengkap tulisan, saya tidak punya stok lagi”. Niatnya berjaga-jaga, tetapi setelah 3-5 tahun berlalu, tak satu pun dari foto itu pernah terpilih bahkan untuk sekedar dipertimbangkan pun tidak.

Mata saya yang semakin terbiasa menilai foto selalu menyingkirkannya pada seleksi awal. Foto-foto itu bahkan tidak masuk kriteria paling rendah dari saya yang baru.

Foto-foto jelek itu tetap bercokol dengan teguh dan membuat kapasitas hard disk komputer terlihat penuh. Situasinya mirip dengan PNS yang tidak mampu kerja, tetapi tidak bisa dipecat.

Kill The Babies

Sampai akhirnya kemarin, setelah memutuskan untuk beradaptasi kembali dengan dunia potret memotret, salah satu langkah awal yang diambil adalah dengan membiasakan mata kembali untuk menilai sesuatu.

Dengan situasi pandemi Covid-19 yang masih belum mereda, saya memutuskan untuk melakukan adaptasi tersebut tanpa harus keluar rumah. Selain saya sudah kembali mulai memotret apa saja yang ada di sekitar rumah, tempat penyimpanan foto menjadi sasaran berikutnya.

Ribuan, bahkan puluhan ribu foto yang tersimpan saya jadikan alat untuk membiasakan mata kembali. Saya memutuskan untuk menerapkan prinsip Kill The Babies, atau Bunuh bayi-bayi itu. Sebuah prinsip seleksi yang saya dapat dari Eric Kim, seorang fotografer berdarah Korea asal Amerika Serikat.

Terdengar kejam dan memang begitu adanya. Saya harus menghilangkan rasa sayang yang biasa timbul terhadap hasil karya sendiri. Semua yang tidak memenuhi standar (yang ditetapkan sendiri) harus dibuang, di-delete.

Saya hanya boleh menyimpan foto-foto terbaik saja. Yang sangat jelek, jelek, lumayan jelek, lumayan bagus harus di”bunuh”. Tidak ada kompromi.

Hasilnya, dalam dua hari, saya sudah berhasil membuang ratusan foto yang rata-rata berukuran 5-6 Megabyte. Total kapasitas yang bisa dikosongkan hampir 3 GB.

Itu pun belum semua karena saya masih berada pada tahap awal, yaitu foto “terjelek” dan “jelek”. Standar yang dipakai sederhana, terang, gelap, blur, isinya tidak jelas, atau miring. Semua itu berkaitan dengan foto-foto yang tidak enak dilihat.

Tanpa basa-basi, ternyata tangan saya rajin menekan tombol delete dan makin lama semakin cepat keputusan diambil. Kadang satu foto hanya perlu 1-2 detik saja untuk divonis.

Tidak sayang?

Kalau menuruti rasa sayang, maka saya tidak akan bisa bergerak maju. Foto-foto jelek itu akan terus membebani. Lama kelamaan saya akan sulit melakukan proses seleksi.

Padahal, untuk terus berkembang sebagai seorang fotografer, meski masih amatiran, adalah saya harus terus meningkatkan standar. Dengan begitu, akan selalu ada dorongan untuk terus bergerak maju. Rasa sayang terhadap foto yang jelek, seperti rantai yang mengikat dan menghambat usaha ke arah itu.

Tidak bedanya dengan seseorang yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Ia akan sulit menatap masa depan dan menerima bahwa sesuatu yang sudah berlalu tidak akan kembali.

Itulah yang akan saya lakukan sekarang dan dalam beberapa waktu ke depan. Masih ada ribuan foto lagi yang harus disortir.

Lagi juga, saya memiliki kesempatan berlatih memotret tanpa kamera. Menyeleksi foto dengan standar akan mengembalikan kemampuan menilai layak atau tidaknya sebuah obyek dijadikan foto, sesuatu yang penting di masa datang.

Tentunya, setelah pandemi usai atau ketika saya sudah merasa nyaman kembali beraktivitas di luar rumah untuk keperluan yang kurang penting.

Leave a Comment