Migrasi Blog Foto Tidak Semudah Yang Dibayangkan

Apakah Anda merasakan perbedaan tampilan dari blog Maniak Potret? Bagi yang sudah beberapa kali datang pasti bisa mengetahui ada perbedaan dari beberapa hari yang lalu.

Hal ini terjadi karena blog foto dan fotografi ini memang baru saja berpindah rumah. Sebelumnya blog ini berada di server kepunyaan Google, Blogger atau Blogspot. Template-nya juga masih bertipe majalah.

Cuma, setelah berpikir lumayan panjang, saya memutuskan memindahkannya ke server sewaan yang dibiayai sendiri. Tidak lagi gratis seperti di Blogspot.

Tujuannya, tentu saja, karena ingin mengembangkan blog ini lebih jauh lagi. Selama berada di bawah Blogspot, perkembanganya seperti terhambat. Entah kenapa, tetapi mungkin salah satu sebabnya adalah karena tampilannya tidak mendukung dan kurang nyaman dilihat. Bisa juga karena alasan lain.

Jadilah, saya putuskan untuk segera memindahkannya dan memakai CMS (Content Management System) WordPress di sebuah server di Singapura. Hanya butuh 1-2 jam saja untuk melakukan migrasi blog foto ini.

Petunjuk pelaksanaannya banyak tersedia dan semua memberikan kesan “mudah” untuk dilakukan.

Kenyataannya? Memang mudah sekali. Tidak rumit.

Secara teknis, tidak ada kendala saat melakukan transfer data dari server Blogspot ke server Digital Ocean via Cloudways di negeri singa (belum ada di Indonesia).

Pengaturan setting pun tidak seberapa sulit dan hanya butuh sedikit utak atik saja, blog yang selama ini nganggur dan terbengkalai bisa tayang kembali.

Migrasi Blog Foto Tidak Semudah Yang Dibayangkan
Jalan Pajajaran, bogor, 2019

Sayangnya, saya kurang menyadari kalau tutorial migrasi blog yang banyak ditemukan di internet, dibuat oleh mereka yang menekankan blog pada kata tulisan atau teks saja. Mereka rupanya tidak memperhitungkan bahwa di zaman sekarang, fotografer pun sudah umum punya blog.

Dalam penjelasannya tidak disebutkan bahwa image yang ditransfer dari Blogspot, mayoritas berupa thumbnail atau berukuran kecil. Resolusi di platform blog punya Google itu dikompres sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan server mereka.

Foto pertama dalam sebuah posting sih normal saja. Ukuran standar, tetapi foto setelah itu akan berukuran kecil. Misalkan dalam satu tulisan ada 4 foto, maka foto pertama masih bagus, tetapi selanjutnya berukuran kecil.

Dan, foto-foto itulah yang kemudian diimpor saat migrasi. Foto yang kadang tidak jelas dan blur itu yang kemudian ditampilkan.

Bagi blogger yang mengandalkan teks, tentunya, image berukuran dan bersolusi kecil tidak menjadi masalah. Toh, image atau foto bagi mereka hanya pelengkap dan pemanis saja.

Tetapi..

Tidak bagi blog foto, seorang fotografer justru mengandalkan image/foto dalam postingnya untuk menarik perhatian pembaca. Foto juga merupakan personal brandingnya karena tidak lucu seorang fotografer menampilkan foto blur dan tidak jelas dalam konten blognya.

Tidak sinkron.

Hal inilah yang saya tidak sadari ketika melakukan migrasi Maniak Potret ini. Padahal, ada 283 posting dan setidaknya ada 2 foto di dalam setiap artikelnya.

Migrasi Blog Foto Tidak Semudah Yang Dibayangkan
Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, 2019

Ujungnya, meski migrasinya hanya memakan waktu 1-2 jam saja, tetapi pekerjaan tambahan hadir. Jumlahnya banyak juga, yaitu 283 artikel yang harus diedit kembali.

Saya harus mengupload lagi foto-foto dalam setiap tulisan, atau menghilangkannya, atau menggantinya dengan yang punya resolusi lebih baik.

Bukan sebuah pekerjaan yang sulit, tetapi sangat memakan waktu.

Oleh karena itu, mau tidak mau tidak bisa dilakukan sekaligus dan harus dicicil. Apalagi karena saya juga harus mengelola beberapa blog lainnya. Waktu yang ada tidak banyak dan harus dibagi-bagi.

Pusing juga.

Cuma, karena saya sudah memutuskan bahwa WordPress dan server sendiri akan memberikan ruang untuk blog ini berkembang, itu adalah resiko yang harus diterima.

Maniak Potret akan tetap dengan tampilan barunya, yang Alhamdulillah lebih enak dilihat, dan berbasis WordPress Self Hosted. Tidak akan kembali ke Blogspot.

Meskipun demikian, selama beberapa waktu, sangat besar kemungkinan akan ada banyak pembaca yang menemukan foto atau image yang blur dan tidak jelas dalam banyak artikel. Setidaknya sampai artikel itu diperbaharui dan diperbaiki.

Pelajaran yang harus dicatat bagi fotografer manapun yang hendak memindahkan blognya agar berhati-hati. Bukan hanya file saja yang harus dipikirkan saat melakukan perpindahan, tetapi juga foto-fotonya. Bagaimanapun, blog foto, nyawanya bukan hanya ada pada teks, tetapi juga pada foto-fotonya.

Yang paling ideal adalah menentukan di awal dan tidak berpindah-pindah, dengan begitu resiko masalah seperti ini tidak akan ada.

Bogor, 19 Agustus 2020

Sharing is caring!

Leave a Comment