Konversi RAW Jadi JPG, Sebaiknya Online Atau Offilne?

Konversi RAW Jadi JPG, Sebaiknya Online Atau Offilne?

Mode RAW adalah mode dimana hasil file yang dihasilkan berbentuk “mentahan” alias belum dikompresi oleh software manapun.

Keuntungannya adalah data warna yang terkandung dalam file tersebut masih “utuh” dan lengkap. Dengan begitu memberikan ruang untuk melakukan pengeditan foto lebih banyak.

Kejelekannya adalah foto dalam bentuk RAW tidak bisa dibuka oleh sembarang perangkat dan hanya bisa dilihat oleh perangkat yang memiliki software tertentu.

Biasanya di komputer sekalipun, hasil pemotretan dengan mode RAW tidak bisa dilihat dan hanya tampil ikon seperti di bawah ini.

Konversi RAW Jadi JPG, Sebaiknya Online Atau Offilne?

Menyebalkan memang, terutama kalau kita tidak terlalu berniat mengutak-atik foto. Foto tidak bisa langsung dilihat.

Untungnya, sekarang sudah banyak sekali software untuk konversi RAW menjadi JPG. Dan, perangkat lunak untuk melakukan itu tersedia secara online atau offline, alias melalui software yang diinstalasi pada komputer atau gadget.

Cuma, sebenarnya, masing-masing cara memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Banyak yang menyukai untuk melakukan konversi via online karena tidak perlu menginstalasi software, mempelajarinya. Cukup dengan mengupload file RAW yang mau diubah dan kemudian download hasilnya.

Belum ditambah dengan bisa dilakukan dimana saja. Selama ada internet dan dari perangkat mana saja, hal itu bisa dilakukan.

Mudah dan praktis.

Sayangnya, ada keburukannya juga.

File RAW memiliki ukuran yang besar. Sebuah file bisa berukuran 20-32 MB.

Mengkonversi RAW ke JOG dengan menggunakan aplikasi online, hampir pasti akan

  1. Memakan kuota internet
  2. Membutuhkan waktu yang lama untuk mengupload
  3. Membutuhkan internet untuk mengupload hasilnya

Kalau cuma 1 file saja, tentu tidak akan terasa, tetapi kalau 20-30 foto yang hendak dijadikan JPG, maka kuota internetnya akan termakan banyak sekali. Jangan tanya kalau harus 100 foto.

Tapi, yang paling menyebalkan adalah waktu yang dibutuhkan. Kecepatan upload foto jelas tergantung kecepatan internet yang ada. Kalau hanya 100 kilobyte perdetik, hasilnya kita perlu menunggu lama untuk sekedar memasukkan foto berformat RAW.

Bisa lama sekali.

Ditambah dengan jarangnya aplikasi pengkonversi RAW ke JPG yang diperlengkapi dengan editor grafis. Artinya, kita tidak bisa mengutak atik foto dan hanya bisa menerima hasil sesuai dengan standar yang dipunya aplikasi tersebut.

Jangan ditanya kalau koneksi internetnya putus nyambung. Pekerjaan ini bisa membuat darah tinggi.

Konversi RAW Jadi JPG, Sebaiknya Online Atau Offilne?

Masalah ini tidak ditemukan saat melakukan konversi secara offline.

Biasanya hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit kalau hanya merubah satu file saja. Kalau mau sekaligus banyak, Chasys Draw IES , perangkat editor grafis buatan John Chacha bisa merubah 200-300 file RAW menjadi JPG hanya dalam waktu kurang dari 1/2 jam saja.

Cepat.

Dan, yang pasti kuota internet tidak akan termakan sama sekali. Untuk melihat hasilnya pun, cukup dengan membuka folder hasil saja, tidak perlu mendownload dulu.

Jangan lupakan juga, kalau sedang iseng, kita bisa mencoba mengutak-atik warna agar sesuai dengan kemauan kita. Perangkat konversi RAW menjadi JPG sekarang biasanya lengkap dengan grafis editor yang tentunya menjadi keuntungan tersendiri karena fotografer bisa berkreasi.

Ukuran file dan lain sebagainya juga bisa diatur.

Kelemahannya ada pada mobilitas. Karena sifatnya yang terinstall di satu perangkat saja, kalau kita lupa membawa perangkat itu maka kita tidak bisa melakukan perubahan itu tadi.

Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Namanya juga buatan manusia.

Hanya saja, kalau disuruh memilih, rasanya konversi RAW menjadi JPG lebih baik dilakukan secara offline saja. Salah satu alasannya, yaitu soal waktu dan kuota internet. Lebih efisien dan cepat.

Meskipun demikian, kalau “terpaksa” barulah aplikasi online menjadi pilihan.

Tapi, semua itu sih terserah pada kondisi dan selera masing-masing saja. Yang manapun, yang penting foto bisa dilihat.

Iya kan?

Sharing is caring!

Leave a Comment